story
Minggu, 23 Februari 2014
Kamis, 23 Januari 2014
I Release You Good Bye
Aku akan terus mengejar dan mengejar mu. Mengejar hingga kamu melihat ku kebelakang.Melihat ku sebagai orang yang selalu ada untuk mu. Saat ini hanya ada kamu di hati dan pikiran ku. Ya hanya kamu seorang. Dan kamu,adalah prioritas utamaku!
Vanilla♥
"Raffa! Disini.." Aku sedikit berteriak memanggil raffa ketika seorang menteri menyampaikan pidatonya. Beberapa wartawan dan beberapa fotographer sekilas melihatku dan memelototi ku. Dan aku tak akan ambil pusing untuk itu.
"Kenapa teriak sih! Kan lu bisa ngelambaiin tangan lu aja. Bikin gue malu aja!" Raffa membisikan kalimat itu ditelinga ku dan membuatku geli, senang, sekaligus gugup.
Raffa langsung mengambil tempat disampingku dan memotret sepuasnya sambil tersenyum. Bahagia karna akhirnya dia mendapatkan posisi bagus untuk memotret. Karna kalau tidak ada aku yang memanggilnya untuk berdiri disampingku, sudah dipastikan dia tetap di barisan belakang dari banyaknya kerumunan wartawan dan fotographer. dan di pastikan dia tidak akan mendapat hasil foto yang memuaskan. Dan itu akan berdampak dengan hasil kerjaannya bukan?
"Maaf,tapi tadi gue udah coba buat lambaiin tangan. Tapi lu gak liat.makanya akhirnya gue teriak aja. Hehehe- " aku menatap raffa yang hanya menatap ku sinis dan kembali memotret dengan fokus.
Setelah selesai dari acara tersebut, aku dan raffa langsung ke parkiran menuju mobil raffa dan berencana langsung kembali ke kantor.
Jangan kalian kira aku dan raffa akrab hingga raffa rela memberikan ku tumpangan. Jika kalian berpikir begitu,maka jawabannya adalah salah besar!
Raffa bahkan dengan terus terangnya menyatakan aku menyebalkan dan termasuk salah satu orang yang dibencinya.PALING DIBENCI lebih tepatnya.
Kenapa demikian?entahlah. Kurasa hanya tuhan,malaikat,dan dia yang tau jawabannya.
Selama diperjalanan aku kembali melihat hasil potretan yang ku ambil tadi. Sedangkan raffa tetap fokus dengan jalan di depannya dan tak mau repot-repot melihat ku walau sekilas.
Radio yang dari tadi sedikit membantu mencairkan suasana antara aku dan raffa tiba-tiba memutarkan lagu afgan yang judulnya jodoh pasti bertemu.
Aku menyukai lagu ini dan menambah volume radio agar setiap lirik dari lagu tersebut semakin jelas terdengar. dan juga karna kebiasaan ku yang memutar lagu kesukaan dengan volume lebih besar.
Aku kembali mengamati hasil potretan ku. Memilah-milah yang mana saja yang akan aku berikan kepada atasan ku nanti, pak joseph. Namun tiba-tiba raffa mengubah siaran radio dan mengecilkan suaranya.
Sedikit kesal aku mengembalikan siaran tadi dan membesarkan volume. Kali ini raffa tidak mengganti siarannya lagi, namun tetap mengecilkannya hingga volume terkecil dan mungkin hanya nyamuk yang mendengar.
Aku kembali memutar volume lebih besar,bahkan lebih besar dari sebelumnya. Dan kali ini raffa langsung mematikan radionya.
"Raffa! Lu apa apaan sih. Gue lagi dengerin lagu!" Ucapku kesal dan menatap raffa dengan penuh harapan cinta. Salah, maksudnya dengan garang.
Namun orang yang ku tatap malah menatapku sinis dan ku yakin sebentar lagi mulutnya pasti akan mengeluarkan kalimat cabe.pedes banget.
"Telinga gue sakit. Lu tuli ya sampai dengerin lagu sekeras itu?" Nah,benerkan kata ku? Kalimat raffa itu kayak cabe. Pedes.
"Gue bukan tuli, gue cuman ingin mendengar liriknya lebih jelas aja. Lu tu aja yang lebay!"
raffa menatapku sinis sebelum dia dengan tiba-tibanya sengaja meng-rem mobilnya dengan kuat ketika mobil didepannya berhenti. Membuat badan ku terdorong dan membentur dashboard.
Untung saja kamera tadi sudah ku pindahkan kebelakang. Jika masih dipangkuanku,sudah dijamin kameraku jatuh kebawah.
Aku kembali ke posisi semula dan memasang seat belt. Berjaga-jaga agar jika raffa masih melakukan rem mendadaknya tadi aku tidak terdorong kedepan lagi.
Dan pada akhirnya aku mengalah.membiarkan raffa mematikan radio dan membuat suasana menjadi awkward.
Setelah dua setengah jam kami terjebak macet dalam keheningan, dan jam makan siang pun terlewat. Pak joseph menelpon ku dan aku mengatakan bahwa kami terjebak macet. Dan syukur nya pak joseph mengerti.
Perutku sudah benar benar keroncongan ketika kami akhirnya bebas dari macet. Dan sama sepertiku, raffa pun kelaparan dan memilih untuk berhenti disalah satu tempat makan dan turun tanpa menawarkan ku untuk turun dan ikut makan bersamanya.
Raffa sudah duluan masuk kedalam restoran tersebut. Dan ketika aku ingin membuka pintu mobil, perutku benar benar sakit sehingga aku tidak jadi membuka pintu dan memilih mencari obat sakit maag di dalam tas.
Aku memakan obat tersebut dan meneguk air mineral yang di minum raffa tadi. Biar sajalah, dia pasti tidak akan memeriksa sisa minumnya kan?
Ketika sakit perutku sedikit mereda aku kembali membuka pintu mobil.aku sedikit bingung ketika pintu mobil tidak mau terbuka. Aku kembali mencoba membukannya bahkan sedikit lebih kasar dan tetap saja tidak bisa di buka. Aku mencoba seluruh pintu dan hasilnya sama.
Aku di kunci!
Raffa♥
Aku turun dari mobil dan langsung masuk kedalam restoran. Aku sudah tidak peduli lagi dengan cewek gila didalam mobilku itu. Aku tidak menyuruhnya turun dan mengajaknya makan. Biar saja, kalau laparkan dia bisa inisiatif sendiri untuk turun dan ikut masuk kedelam restoran.
Aku memesan satu ayam penyet dan jus jeruk. Sambil menunggu pesanan tiba aku menonton tv yang sedang memutar film transformer 3 secara cuma cuma.
Dan tak lama setelah itu pesanan ku datang dan tanpa babibu aku langsung menyantap makanan didepanku.
Lapar? Jangan ditanya.
Hanya beberapa menit nasi dan jus tadi sudah habis ku lahap.
Aku sedikit bingung, kenapa cewek gila itu tidak masuk ke dalam restoran yang sama denganku. Apa dia mencari tempat makan lain? Tapi kurasa tempat makan disini jaraknya lumayan jauh dengan tempat makan lainnya.
Jadi jika aku memarkirkan mobil disini,tidak mungkinkan dia rela berjauh jauhan jalan hanya tidak ingin makan satu restoran denganku?
Lagian mana mungkin. Kurasa vanilla tidak akan pernah menjauh atau menghindar dariku walau kadang dia marah atau berpura pura marah dengan ku. Malahan nantinya dia yang sibuk mencari perhatianku.
Aku kembali menghisap sedikit sisa jus ku dan menghidupkan iphone yang sempat ku non aktifkan selama acara tadi.
Aku sedikit terkejut ketika mendapat 25 misscall, 5 message, dan 10 line. Dan parahnya itu semua dari vanilla. Cewek itu memang gila.
Aku membuka pesannya satu persatu.
"Raffa buka pintu mobil lu!" Pesan pertama.
"Raffa gue mau makan,gue lapar. Buka pintunya!!" Pesan kedua.
"Raffa perut gue udah perih nih,buka pintunya!!" Pesan ketiga.
"Nafas gue udah sesak, lu bukain pintunyaa!!" Pesan entah keberapa.
"Astaga raffa! Lu buka pintunya atau bentar lagi gue mati!" Pesan terakhir.
Aku melewatkan beberapa sms yang ku yakinani isinya sama. Karna panik, aku langsung menuju kasir dan membayar makanan ku tadi. Aku sempat membuka line dan isinya sama.
Dia minta di buka kan pintu mobil. Emang tadi aku menguncinya?
Aku sampai di depan mobil dan membuka pintu mobilnya. Dan terkejut ketika badan vanilla tiba tiba langsung jatuh ketika aku membuka pintu mobil tersebut. Untung saja aku cepat menangkapnya.
Aku memperbaiki posisi duduknya dan memasangkan seat belt. Dan langsung berlari menuju pintu mobil sebelah dan menyalakan mesin. Selama di perjalanan aku mencoba membangunkan vanilla.
Awalnya hanya memukul lengannya pelan,lalu pipinya dan akhirnya menggoncang tubuhnya ketika dia tetap tidak bangun. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memutar balik arah dan langsung menuju rumah sakit.
Aku memarkirkan mobil didekat pintu UGD dan menggendongnya langsung menuju kedalam. Beberapa perawat cowok langsung membantuku dan menaruh vanilla di atas ranjang pasien yang memang telah di siapkan untuk menghadapi keadaan seperti ini. Para perawat tersebut itu pun langsung membawa vanilla masuk keruangan periksa dan para dokter langsung memeriksanya.
Setelah beberapa menit berlalu,dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut dan menanyakan aku siapa.
Dan tentu saja aku ingin menjawab 'aku orang yang membenci wanita didalam tersebut' tapi yang keluar dimulutku adalah 'aku teman baiknya'.
Dokter langsung memberi tahuku bahwa vanilla mengalami kekurangan oksigen dan penyakit maagnya kambuh. Aku baru tahu kalau vanilla sakit maag. Dan ini membuatku merasa bersalah, Sedikit.
Setelah mendegar penjelasan dokter bahwa vanilla harus istirahat minimal 2 hari dan menjaga aturan makanya, aku masuk dan menemukan dia telah sadar dan telah duduk.
"Gue kok bisa disini?"ucapnya sambil mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan periksa yang kecil ini.
"Tadi lu pingsan,makanya gue bawa kerumah sakit." Dan aku beraharap dia tidak ingat kenapa pingsan.
Dia mengangguk angguk dan seolah sadar langsung memelototkan matanya menghadapku.
"Raffaa!! Kenapa lu kunci gue dimobil tadi?!!" Harapan tinggal harapan,ternyata dia ingat.
"Mungkin gue gak sengaja mencet tombol locknya" ucap ku santai.
Aku duduk disebelah tempat tidurnya dan mengambil bubur di atas meja tersebut.
"Nih,disuruh dokter makan. Katanya lu pingsan gara maag lu kambuh." Aku menyerahkan mangkok bubur tersebut dengannya. Dan tiba-tiba tampang galaknya tadi berubah 180° menjadi tampang memelas.
"Gue gak sanggup megang sendoknya. Lu suapin ya?" Ucapnya sambil melihat tangannya yang tak kenapa kenapa lalu bergantian ke wajah ku.
Huh dasar drama queen! Pandai banget akting.
"Repotin aja deh. Kalau lu sakit ya sakit aja, gak perlu pakai repotin gue!" Ucap ku ketus sambil membuka plastik transparan penutup bubur tersebut.
Aku menyendok bubur tersebut dan menyuapinya. Vanilla sepertinya memang sangat kelaparan. Karna sekejap saja bubur tadi sudah abis.
"Raf,ambilin minumnya dong gue haus" ucapnya sambil menyentuh kerongkongan nya.
Aku mengambil gelas berisi air mineral tersebut dan membuka tutup gelasnya, lalu memberikan pada vanilla. Tapi sekarang cewek itu malah hanya menatap gelas ditangan ku.
"Kenapa? Mau gue minumin juga?" Eh minumin? Gue yang minum dong kalau gitu.
"Kok gak ada pipetnya? Gue mau minum pakai pipet.." dasar manja! Aku hanya mendengus kesal dan kembali mengambil pipet.
Aku kembali dan kali ini dia tersenyum aneh padaku.
"Lu pegangin ya, kan tangan gue lemas.." dan kali ini sukses membuatku melotot sebal padanya dan akhirnya mengalah membiarkannya minum sambil tersenyum tanpa dosa.
Dasar drama queen! Kalau bukan karna rasa bersalah ku, sudah ku tinggal dari tadi. Awas saja jika sudah sembuh nanti. Jangan berharap aku melupakan ini vanilla!
Vanilla
Rasakan! Emang enak dikerjain!
Salah sendiri kenapa mengunciku tadi didalam mobil sementara dia asik asik kan makan diluar.
Setelah selesai makan dan minum, raffa mengatakan jika dia akan mengantarku pulang. Sebenarnya sih aku mau dan dengan senang hati untuk menunjuk kan alamat rumahku.
Tapi pekerjaan ku tak bisa tinggal bukan? Leptop ku masih tergeletak manis di atas meja kantor. Setidaknya aku bisa membawa pulang leptop dan mengerjakan pekerjaan yang tertinggal tadi dirumah. Dan akhirnya aku memutuskan untuk dia mengantarku ke kantor saja karna aku ingin mengambil leptop.
Awalnya dia melarang ku karna dokter menyuruh istirahat. Tapi setelah beberapa alasan akhirnya dia mau mengantarkan ku kembali kekantor.
Sebenarnya hatiku berbunga bunga saat ini. Tentu saja. Seorang raffa tanpa sadar memerhatikan kondisi seorang vanilla. Unbelievable!
Setelah mengantarkan ku sampai di kantor, raffa langsung pergi begitu saja ketika mendapat telpon dari seseorang. Aku masuk ke dalam kantor dan pergi ke meja kerjaku lalu memasuk kan leptop ke tas ransel besarku. Mereka yang melihatku berjalan sambil membawa ransel ini pasti selalu memanggil ku 'kura-kura ninja'. What the hell.
Aku kembali ke parkiran kantor dan menuju mobil grand livina kesayangan ku. Kembali kerumah dan berharap tidak terkena macet dijalan.
Terkadang tidak semua harapan terkabulkan. Buktinya kini aku baru sampai di rumah jam setengah 9 karna di jalan terjadi kecelakaan yang menyebabkan macet hingga 2 jam.
Sesampai dirumah,aku langsung masuk kedalam kamar dan langsung ke kamar mandi dan berniat untuk segera mandi.
Setelah mandi dan badan pun mulai terasa segar. Aku pun langsung menghidupkan leptop dan mulai memilih beberapa foto. Aku mulai mengedit satu persatu dan terakhir mengirimkan file foto yang telah ku edit tadi ke pak joseph melalui email.
Aku melihat jam dan sekarang sudah setengah sebelas. Merasa mataku sudah tinggal delapan watt aku pun memilih untuk tidur dan menghidupkan alarm.
aku baru saja ingin tertidur ketika telpon ku berbunyi dan mataku langsung meloto besar ketiks membaca uname nya.
Raffa?!
Aku langsung mengangjat dengan cepat dan sedikit membuat drama kecil kecilan
Sialnya aku tetap saja terbangun jam sepuluh. Aku langsung menelpon kantor dan meminta izin untuk tidak masuk. Yang mana ternyata sudah di izinkan duluan oleh raffa.
Aku langsung mengirim pesan pada raffa. Mengucapkan terima kasih karna telah mengizinkan ku.
Semenit, sepuluh menit, tiga puluh menit. Dan akhirnya setelah 3 jam berlalu raffa baru membalas sms ku. Dan balasannya hanya 'Ya'.
Astagaa! Apa orang ini tidak di ajarkan basa basi? Ah ya aku lupa. Jangan pernah tanyakan basa basi pada raffa. Dia pasti akan mendapat nilai nol dalam hal itu.
Sebelumnya sudah ada lima belas pesan dari raffa di message ku. Dan sekarang bertambah satu lagi menjadi enam belas.
Berlebihan? Kurasa biasa saja bagiku. Jangan kalian pikir lima belas pesan tadi baru ada beberapa hari atau seminggu yang lalu. Pesan itu sudah ada bahkan sejak dua tahun yang lalu.
Ketika seminggu sesudah aku diterima, kantor ini pun menyelenggarakan ulang tahunnya yang kedelapan. Di mana pegawai baru sepertiku boleh meminta nomor hp siapa saja yang kira-kira dapat membantuku kedepan dalam bertugas.
Vanilla♥
"Raffa! Disini.." Aku sedikit berteriak memanggil raffa ketika seorang menteri menyampaikan pidatonya. Beberapa wartawan dan beberapa fotographer sekilas melihatku dan memelototi ku. Dan aku tak akan ambil pusing untuk itu.
"Kenapa teriak sih! Kan lu bisa ngelambaiin tangan lu aja. Bikin gue malu aja!" Raffa membisikan kalimat itu ditelinga ku dan membuatku geli, senang, sekaligus gugup.
Raffa langsung mengambil tempat disampingku dan memotret sepuasnya sambil tersenyum. Bahagia karna akhirnya dia mendapatkan posisi bagus untuk memotret. Karna kalau tidak ada aku yang memanggilnya untuk berdiri disampingku, sudah dipastikan dia tetap di barisan belakang dari banyaknya kerumunan wartawan dan fotographer. dan di pastikan dia tidak akan mendapat hasil foto yang memuaskan. Dan itu akan berdampak dengan hasil kerjaannya bukan?
"Maaf,tapi tadi gue udah coba buat lambaiin tangan. Tapi lu gak liat.makanya akhirnya gue teriak aja. Hehehe- " aku menatap raffa yang hanya menatap ku sinis dan kembali memotret dengan fokus.
Setelah selesai dari acara tersebut, aku dan raffa langsung ke parkiran menuju mobil raffa dan berencana langsung kembali ke kantor.
Jangan kalian kira aku dan raffa akrab hingga raffa rela memberikan ku tumpangan. Jika kalian berpikir begitu,maka jawabannya adalah salah besar!
Raffa bahkan dengan terus terangnya menyatakan aku menyebalkan dan termasuk salah satu orang yang dibencinya.PALING DIBENCI lebih tepatnya.
Kenapa demikian?entahlah. Kurasa hanya tuhan,malaikat,dan dia yang tau jawabannya.
Selama diperjalanan aku kembali melihat hasil potretan yang ku ambil tadi. Sedangkan raffa tetap fokus dengan jalan di depannya dan tak mau repot-repot melihat ku walau sekilas.
Radio yang dari tadi sedikit membantu mencairkan suasana antara aku dan raffa tiba-tiba memutarkan lagu afgan yang judulnya jodoh pasti bertemu.
Aku menyukai lagu ini dan menambah volume radio agar setiap lirik dari lagu tersebut semakin jelas terdengar. dan juga karna kebiasaan ku yang memutar lagu kesukaan dengan volume lebih besar.
Aku kembali mengamati hasil potretan ku. Memilah-milah yang mana saja yang akan aku berikan kepada atasan ku nanti, pak joseph. Namun tiba-tiba raffa mengubah siaran radio dan mengecilkan suaranya.
Sedikit kesal aku mengembalikan siaran tadi dan membesarkan volume. Kali ini raffa tidak mengganti siarannya lagi, namun tetap mengecilkannya hingga volume terkecil dan mungkin hanya nyamuk yang mendengar.
Aku kembali memutar volume lebih besar,bahkan lebih besar dari sebelumnya. Dan kali ini raffa langsung mematikan radionya.
"Raffa! Lu apa apaan sih. Gue lagi dengerin lagu!" Ucapku kesal dan menatap raffa dengan penuh harapan cinta. Salah, maksudnya dengan garang.
Namun orang yang ku tatap malah menatapku sinis dan ku yakin sebentar lagi mulutnya pasti akan mengeluarkan kalimat cabe.pedes banget.
"Telinga gue sakit. Lu tuli ya sampai dengerin lagu sekeras itu?" Nah,benerkan kata ku? Kalimat raffa itu kayak cabe. Pedes.
"Gue bukan tuli, gue cuman ingin mendengar liriknya lebih jelas aja. Lu tu aja yang lebay!"
raffa menatapku sinis sebelum dia dengan tiba-tibanya sengaja meng-rem mobilnya dengan kuat ketika mobil didepannya berhenti. Membuat badan ku terdorong dan membentur dashboard.
Untung saja kamera tadi sudah ku pindahkan kebelakang. Jika masih dipangkuanku,sudah dijamin kameraku jatuh kebawah.
Aku kembali ke posisi semula dan memasang seat belt. Berjaga-jaga agar jika raffa masih melakukan rem mendadaknya tadi aku tidak terdorong kedepan lagi.
Dan pada akhirnya aku mengalah.membiarkan raffa mematikan radio dan membuat suasana menjadi awkward.
Setelah dua setengah jam kami terjebak macet dalam keheningan, dan jam makan siang pun terlewat. Pak joseph menelpon ku dan aku mengatakan bahwa kami terjebak macet. Dan syukur nya pak joseph mengerti.
Perutku sudah benar benar keroncongan ketika kami akhirnya bebas dari macet. Dan sama sepertiku, raffa pun kelaparan dan memilih untuk berhenti disalah satu tempat makan dan turun tanpa menawarkan ku untuk turun dan ikut makan bersamanya.
Raffa sudah duluan masuk kedalam restoran tersebut. Dan ketika aku ingin membuka pintu mobil, perutku benar benar sakit sehingga aku tidak jadi membuka pintu dan memilih mencari obat sakit maag di dalam tas.
Aku memakan obat tersebut dan meneguk air mineral yang di minum raffa tadi. Biar sajalah, dia pasti tidak akan memeriksa sisa minumnya kan?
Ketika sakit perutku sedikit mereda aku kembali membuka pintu mobil.aku sedikit bingung ketika pintu mobil tidak mau terbuka. Aku kembali mencoba membukannya bahkan sedikit lebih kasar dan tetap saja tidak bisa di buka. Aku mencoba seluruh pintu dan hasilnya sama.
Aku di kunci!
Raffa♥
Aku turun dari mobil dan langsung masuk kedalam restoran. Aku sudah tidak peduli lagi dengan cewek gila didalam mobilku itu. Aku tidak menyuruhnya turun dan mengajaknya makan. Biar saja, kalau laparkan dia bisa inisiatif sendiri untuk turun dan ikut masuk kedelam restoran.
Aku memesan satu ayam penyet dan jus jeruk. Sambil menunggu pesanan tiba aku menonton tv yang sedang memutar film transformer 3 secara cuma cuma.
Dan tak lama setelah itu pesanan ku datang dan tanpa babibu aku langsung menyantap makanan didepanku.
Lapar? Jangan ditanya.
Hanya beberapa menit nasi dan jus tadi sudah habis ku lahap.
Aku sedikit bingung, kenapa cewek gila itu tidak masuk ke dalam restoran yang sama denganku. Apa dia mencari tempat makan lain? Tapi kurasa tempat makan disini jaraknya lumayan jauh dengan tempat makan lainnya.
Jadi jika aku memarkirkan mobil disini,tidak mungkinkan dia rela berjauh jauhan jalan hanya tidak ingin makan satu restoran denganku?
Lagian mana mungkin. Kurasa vanilla tidak akan pernah menjauh atau menghindar dariku walau kadang dia marah atau berpura pura marah dengan ku. Malahan nantinya dia yang sibuk mencari perhatianku.
Aku kembali menghisap sedikit sisa jus ku dan menghidupkan iphone yang sempat ku non aktifkan selama acara tadi.
Aku sedikit terkejut ketika mendapat 25 misscall, 5 message, dan 10 line. Dan parahnya itu semua dari vanilla. Cewek itu memang gila.
Aku membuka pesannya satu persatu.
"Raffa buka pintu mobil lu!" Pesan pertama.
"Raffa gue mau makan,gue lapar. Buka pintunya!!" Pesan kedua.
"Raffa perut gue udah perih nih,buka pintunya!!" Pesan ketiga.
"Nafas gue udah sesak, lu bukain pintunyaa!!" Pesan entah keberapa.
"Astaga raffa! Lu buka pintunya atau bentar lagi gue mati!" Pesan terakhir.
Aku melewatkan beberapa sms yang ku yakinani isinya sama. Karna panik, aku langsung menuju kasir dan membayar makanan ku tadi. Aku sempat membuka line dan isinya sama.
Dia minta di buka kan pintu mobil. Emang tadi aku menguncinya?
Aku sampai di depan mobil dan membuka pintu mobilnya. Dan terkejut ketika badan vanilla tiba tiba langsung jatuh ketika aku membuka pintu mobil tersebut. Untung saja aku cepat menangkapnya.
Aku memperbaiki posisi duduknya dan memasangkan seat belt. Dan langsung berlari menuju pintu mobil sebelah dan menyalakan mesin. Selama di perjalanan aku mencoba membangunkan vanilla.
Awalnya hanya memukul lengannya pelan,lalu pipinya dan akhirnya menggoncang tubuhnya ketika dia tetap tidak bangun. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memutar balik arah dan langsung menuju rumah sakit.
Aku memarkirkan mobil didekat pintu UGD dan menggendongnya langsung menuju kedalam. Beberapa perawat cowok langsung membantuku dan menaruh vanilla di atas ranjang pasien yang memang telah di siapkan untuk menghadapi keadaan seperti ini. Para perawat tersebut itu pun langsung membawa vanilla masuk keruangan periksa dan para dokter langsung memeriksanya.
Setelah beberapa menit berlalu,dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut dan menanyakan aku siapa.
Dan tentu saja aku ingin menjawab 'aku orang yang membenci wanita didalam tersebut' tapi yang keluar dimulutku adalah 'aku teman baiknya'.
Dokter langsung memberi tahuku bahwa vanilla mengalami kekurangan oksigen dan penyakit maagnya kambuh. Aku baru tahu kalau vanilla sakit maag. Dan ini membuatku merasa bersalah, Sedikit.
Setelah mendegar penjelasan dokter bahwa vanilla harus istirahat minimal 2 hari dan menjaga aturan makanya, aku masuk dan menemukan dia telah sadar dan telah duduk.
"Gue kok bisa disini?"ucapnya sambil mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan periksa yang kecil ini.
"Tadi lu pingsan,makanya gue bawa kerumah sakit." Dan aku beraharap dia tidak ingat kenapa pingsan.
Dia mengangguk angguk dan seolah sadar langsung memelototkan matanya menghadapku.
"Raffaa!! Kenapa lu kunci gue dimobil tadi?!!" Harapan tinggal harapan,ternyata dia ingat.
"Mungkin gue gak sengaja mencet tombol locknya" ucap ku santai.
Aku duduk disebelah tempat tidurnya dan mengambil bubur di atas meja tersebut.
"Nih,disuruh dokter makan. Katanya lu pingsan gara maag lu kambuh." Aku menyerahkan mangkok bubur tersebut dengannya. Dan tiba-tiba tampang galaknya tadi berubah 180° menjadi tampang memelas.
"Gue gak sanggup megang sendoknya. Lu suapin ya?" Ucapnya sambil melihat tangannya yang tak kenapa kenapa lalu bergantian ke wajah ku.
Huh dasar drama queen! Pandai banget akting.
"Repotin aja deh. Kalau lu sakit ya sakit aja, gak perlu pakai repotin gue!" Ucap ku ketus sambil membuka plastik transparan penutup bubur tersebut.
Aku menyendok bubur tersebut dan menyuapinya. Vanilla sepertinya memang sangat kelaparan. Karna sekejap saja bubur tadi sudah abis.
"Raf,ambilin minumnya dong gue haus" ucapnya sambil menyentuh kerongkongan nya.
Aku mengambil gelas berisi air mineral tersebut dan membuka tutup gelasnya, lalu memberikan pada vanilla. Tapi sekarang cewek itu malah hanya menatap gelas ditangan ku.
"Kenapa? Mau gue minumin juga?" Eh minumin? Gue yang minum dong kalau gitu.
"Kok gak ada pipetnya? Gue mau minum pakai pipet.." dasar manja! Aku hanya mendengus kesal dan kembali mengambil pipet.
Aku kembali dan kali ini dia tersenyum aneh padaku.
"Lu pegangin ya, kan tangan gue lemas.." dan kali ini sukses membuatku melotot sebal padanya dan akhirnya mengalah membiarkannya minum sambil tersenyum tanpa dosa.
Dasar drama queen! Kalau bukan karna rasa bersalah ku, sudah ku tinggal dari tadi. Awas saja jika sudah sembuh nanti. Jangan berharap aku melupakan ini vanilla!
Vanilla
Rasakan! Emang enak dikerjain!
Salah sendiri kenapa mengunciku tadi didalam mobil sementara dia asik asik kan makan diluar.
Setelah selesai makan dan minum, raffa mengatakan jika dia akan mengantarku pulang. Sebenarnya sih aku mau dan dengan senang hati untuk menunjuk kan alamat rumahku.
Tapi pekerjaan ku tak bisa tinggal bukan? Leptop ku masih tergeletak manis di atas meja kantor. Setidaknya aku bisa membawa pulang leptop dan mengerjakan pekerjaan yang tertinggal tadi dirumah. Dan akhirnya aku memutuskan untuk dia mengantarku ke kantor saja karna aku ingin mengambil leptop.
Awalnya dia melarang ku karna dokter menyuruh istirahat. Tapi setelah beberapa alasan akhirnya dia mau mengantarkan ku kembali kekantor.
Sebenarnya hatiku berbunga bunga saat ini. Tentu saja. Seorang raffa tanpa sadar memerhatikan kondisi seorang vanilla. Unbelievable!
Setelah mengantarkan ku sampai di kantor, raffa langsung pergi begitu saja ketika mendapat telpon dari seseorang. Aku masuk ke dalam kantor dan pergi ke meja kerjaku lalu memasuk kan leptop ke tas ransel besarku. Mereka yang melihatku berjalan sambil membawa ransel ini pasti selalu memanggil ku 'kura-kura ninja'. What the hell.
Aku kembali ke parkiran kantor dan menuju mobil grand livina kesayangan ku. Kembali kerumah dan berharap tidak terkena macet dijalan.
Terkadang tidak semua harapan terkabulkan. Buktinya kini aku baru sampai di rumah jam setengah 9 karna di jalan terjadi kecelakaan yang menyebabkan macet hingga 2 jam.
Sesampai dirumah,aku langsung masuk kedalam kamar dan langsung ke kamar mandi dan berniat untuk segera mandi.
Setelah mandi dan badan pun mulai terasa segar. Aku pun langsung menghidupkan leptop dan mulai memilih beberapa foto. Aku mulai mengedit satu persatu dan terakhir mengirimkan file foto yang telah ku edit tadi ke pak joseph melalui email.
Aku melihat jam dan sekarang sudah setengah sebelas. Merasa mataku sudah tinggal delapan watt aku pun memilih untuk tidur dan menghidupkan alarm.
aku baru saja ingin tertidur ketika telpon ku berbunyi dan mataku langsung meloto besar ketiks membaca uname nya.
Raffa?!
Aku langsung mengangjat dengan cepat dan sedikit membuat drama kecil kecilan
Sialnya aku tetap saja terbangun jam sepuluh. Aku langsung menelpon kantor dan meminta izin untuk tidak masuk. Yang mana ternyata sudah di izinkan duluan oleh raffa.
Aku langsung mengirim pesan pada raffa. Mengucapkan terima kasih karna telah mengizinkan ku.
Semenit, sepuluh menit, tiga puluh menit. Dan akhirnya setelah 3 jam berlalu raffa baru membalas sms ku. Dan balasannya hanya 'Ya'.
Astagaa! Apa orang ini tidak di ajarkan basa basi? Ah ya aku lupa. Jangan pernah tanyakan basa basi pada raffa. Dia pasti akan mendapat nilai nol dalam hal itu.
Sebelumnya sudah ada lima belas pesan dari raffa di message ku. Dan sekarang bertambah satu lagi menjadi enam belas.
Berlebihan? Kurasa biasa saja bagiku. Jangan kalian pikir lima belas pesan tadi baru ada beberapa hari atau seminggu yang lalu. Pesan itu sudah ada bahkan sejak dua tahun yang lalu.
Ketika seminggu sesudah aku diterima, kantor ini pun menyelenggarakan ulang tahunnya yang kedelapan. Di mana pegawai baru sepertiku boleh meminta nomor hp siapa saja yang kira-kira dapat membantuku kedepan dalam bertugas.
Langganan:
Komentar (Atom)